Injil

Tadi malam pada saat evaluasi acara Pesta Nama Santo Petrus, ada pembicaraan sedikit mengenai pemenang lomba lektor & mazmur. Ya walaupun saya bukan lektor (apalagi pemazmur), saya sempat menghadiri rekoleksi untuk Lektor dan Pemazmur yang dibawakan oleh Father Richards Ambrose sewaktu masih di Singapura. Setelah bongkar-bongkar kamar, akhirnya saya menemukan buku catatan tersebut.

Continue reading

Advertisements

Friendship with Cilez

21-Feb-2018
I just discovered another blog of mine, which was active from May 2011 to April 2012. 
I will import some of the relevant contents to this blog. 

It was posted on August 2, 2011
—————————————————————-
I just realized that it’s August already, which mean my friendship with Cilez is over seven years. There were many ups and downs. Honestly, in the beginning, I never thought it could last this long.

The past 7 years have been a wonderful journey in my life. Somehow, we managed to find fun, joy & surprises in every little things in our daily lives.

Continue reading

Runaway

I think it was taken from a novel, which I can’t remember the title.

+Ngga adil, ya, kita ngerasa ini. Maksud aku, kenapa kita ngga bisa bersama-sama terus?
-Karena kita akan melukai orang yang bersama kita, kamu tau itu.
+Well, walau bagaimanapun, gue ngga pernah nyesel kenalan sama loe, walaupun akhirnya mesti seperti ini, walaupun hati gue sakit.
-Gue juga, tau kenapa?
+Napa?
-Karena walaupun kita berjalan ke dua arah yang berlawanan, loe tetap tetep ada di sini, di dalam hati gue. Mungkin  ini terakhir kalinya kita ketemu, tapi elu ngga akan pernah hilang dari dalam diri gue.
Continue reading

Krisma… Sudah selesai!

Pertama-tama, Proficiat untuk 133 penerima Sakramen Krisma di Gereja St. Petrus malam tadi. Sebuah perjalanan yang tidak mudah untuk para pengajar mau pun para peserta.

Di bulan Januari,ketika diminta untuk menjadi Koordinator Sakramen Krisma, saya tidak mempunyai ekspektasi apa-apa. Bahkan pada saat itu, Sakramen Krisma itu masih samar-samar karena saya memang tidak banyak tahu mengenai sakramen ini. Dan pada saat itu, tidak ada rencana untuk mengadakan Sakramen Krisma tahun ini di Paroki, sehingga saya tidak terlalu memikirkannya.

Di bulan Mei, mendadak saya mendapat mandat untuk mempersiapkan Kelas Sakramen Krisma, karena Pak Thomas, Koordinator seksi Katekese, mau menanyesuaikan jadwal Bapak Uskup ke Batam. Sewaktu itu, masih Administrator Apostolik Mgr. Yohanes Harun Yuwono.

Kelas persiapan penerimaan Sakramen Krisma dimulai bulan Agustus, kelas pertama.. berantakan.. Jujur, saya belajar sembari menjalankan prosesnya. Banyak yang harus saya improv dengan seiring perjalanan waktu. Mulai dari rencana untuk membuat 1 kelas, tetapi setelah melihat kelas pertama, saya jadikan 2 kelas. Belum lagi, ada peserta yang tidak bisa mengikuti kelas di Hari Minggu karena ada kegiatan lain yang tidak bisa diganti, sehingga saya membuat kelas susulan di hari Jumat.

Ada beberapa waktu di mana saya tidak mempunyai waktu yang cukup untuk mempersiapkan bahan. Untuk itu saya minta maaf. Tetapi saya selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik. Saya percaya Tuhan akan menyempurnakannya.

Di penghujung kelas krisma, semakin banyak tantangan dan saya benar-benar bergantung penuh kepada campur tangan Tuhan. Waktu semakin sedikit dan ternyata begitu banyak yang harus dipersiapkan. Ada beberapa moment di mana jika diberi kesempatan untuk menyerah, maka saya akan mundur. Tetapi dengan padatnya waktu, itu bukan satu opsi. Saya harus benar-benar mempush diri saya untuk bisa terus berjuang dan itu tidak mudah. Saya kembali mengingat bahwa ini semua untuk ke-133 peserta yang selalu hadir setiap Minggu dan untuk kemuliaan Tuhan.

Sewaktu misa tadi, saya mendadak merasa haru ketika melihat para calon krismawan dan krismawati maju untuk menerima sakramen krisma. Di situ, saya tahu bahwa secara formal peran saya sudah selesai. Tidak ada lagi yang bisa saya lakukan. That’s it. Mulai dari saat ini sampai seterusnya, mereka sudah dianggap dewasa dalam iman oleh Gereja. Hopefully, I’ve done my best to plant the seed. Whatever I’ve planted, I might and might not see it in my lifetime. Hopefully, I will be able to know it in the next life.

Terima kasih untuk Bapa Uskup yang telah bersedia hadir, Para Pastor di paroki yang mendukung dan memberi bantuan. Selain itu pula, terima kasih untuk dukungan koordinator katekis, Pak Thomas Suprapto, para tim pengajar. Saya belajar banyak dari mereka. Terima kasih juga untuk para Krismawan dan Krismawati yang telah setia untuk mengikuti kelas krisma selama beberapa bulan terakhir ini.

Semoga para Krismawan dan Krismawati diberi hikmat untuk bisa menjadi saksi Kristus di lingkungan di mana mereka berada. Semoga Tuhan memberkati kita semua.

Brand New Beat

The next few months will be the most important time in my life. Therefore, I really want to document in through my writing. I will try to write as often as possible despite my busy schedule.

How about that for a new era?