Panggilan Katolik

Sewaktu masih tinggal di Singapura dulu, saya sering ikut Rekoleksi maupun Retreat untuk Penegasan Panggilan (Vocation Discernment) yang diadakan oleh Seminari Tinggi Fransiskus Xaverius.  Seminari untuk Imam Diosesan Singapura. Saya juga pernah mengikuti event serupa yang diadakan oleh Ordo Religius Fransiskan (OFM), Karmel (OCD), dan juga Redemptorist (CSsR). Di sana, saya dijelaskan mengenai Panggilan (Vocation).

Vocation itu berasal dari bahasa Latin “Vocare” yang artinya “Call” atau “Panggilan” Panggilan ini bukanlah sebuah panggilan biasa, melainkan panggilan dari Tuhan, dan orang-orang yang sudah pernah merasakan panggilan dari Tuhan akan mengetahui bahwa proses tersebut tidak mudah. Biasanya orang berpikir bahwa panggilan adalah sesuatu yang mereka merasa terpanggil untuk lakukan di hidup mereka. Penting untuk memahami bahwa panggilan yang paling utama dan paling penting adalah untuk menjadi kudus.

Panggilan tidak sama dengan karir atau pun profesi anda. Walau terkadang ada tumpang tindih antara keduanya.

Karir atau profesi adalah sesuatu yang harus kita lakukan untuk bisa mendapatkan materi untuk menopang hidup anda dan memberikan kontribusi untuk masyarakat luas. Anda tidak perlu percaya Tuhan untuk memilih sebuah karir atau pun profesi. Seseorang bisa memilih dan beralih profesi tergantung pada keinginan dan keadaannya. Sebuah karir atau profesi selalu memiliki dimensi horizontal.

Ketika kita berbicara mengenai Vocation/Panggilan Tuhan, kita memperkenalkan dimensi vertikal dalam hidup kita, yaitu Tuhan. Tidak lagi “apa yang saya inginkan?” melainkan “apa yang Tuhan ingin saya lakukan dengan hidup saya?” Panggilan tersebut bukanlah sesuatu yang dapat anda tukar layaknya profesi atau pun karir.

Contohnya, seseorang dapat bekerja menjadi guru karena dia mempunyai keahlian untuk mengajar. Panggilan orang tersebut bisa menjadi seorang yg hidup melajang, seorang istri/suami, seorang bruder/suster, ataupun seorang pastor.

Perbedaan antara panggilan untuk kekudusan dan panggilan ke panggilan tertentu – hidup melajang, hidup menikah, suster/bruder maupun imam – adalah penting.

Melalui Baptisan, kita semua dipanggil untuk menjadi kudus. Sebuah panggilan untuk mengenal, mengasihi, dan melayani Tuhan. Ini adalah gerakan yang menarik kita menuju persatuan yang lebih dalam dengan Tuhan. Kita merasa keinginan yang terus tumbuh untuk mengasihi Allah dan sesama kita.

Panggilan tersebut mengundang kita untuk berpaling ke Allah dengan menyelaraskan kehendak kita dengan kehendak Allah.

Keinginan untuk melakukan kehendak Allah dibangun pada 2 keyakinan:
– kita harus percaya bahwa Tuhan mengasihi kita lebih daripada kita mengasihi diri kita sendiri
– Tuhan ingin kebahagiaan kita lebih dari yang kita inginkan

Dengan kata lain, kita harus percaya bahwa Tuhan mengetahui apa yang akan membuat kita sangat bahagia lebih dari yang kita ketahui. Jika Tuhan mengabulkan semua permintaan kita, kita akan sangat tidak bahagia. Dasar dari keinginan kita untuk mencari dan melakukan kehendak Tuhan harus menjadi keyakinan bahwa kehendak Tuhan bagi kita adalah satu-satunya kesempatan kita untuk benar-benar menjadi bahagia.

Kita menjalani panggilan “untuk menjadi kudus” tergantung pada panggilan yang telah kita pilih. Empat panggilan spesifik adalah: Imam, hidup menikah, hidup lajang (awam) dan hidup membiara (suster/bruder). Setiap panggilan tersebut adalah panggilan untuk mengikuti Kristus secara erat.

IMAM

Untuk mereka yang menjawab panggilan menjadi Imam melalui sakramen imamat, mereka berbagi dengan imamat Kristus secara khusus. Diri mereka diubah sehingga mereka bisa mewakili Kristus Gembala yang baik bagi umat Allah dan Kristus sebagai Kepala Gereja. Tidak hanya mereka mempersembahkan diri mereka kepada Bapa, seperti yang semua orang Kristen lakukan, tetapi mereka juga berdiri di depan Gereja dan melayani umat sebagai “in persona Christi.” Jadi ketika mereka memberikan absolusi di ruang pengakuan, maka Kristus sendiri lah yang mengampuni Ketika mereka mempersembahkan kurban persembahan Misa, maka Kristus sendirilah yang melakukannya. Ketika mereka mengasihi, mendukung dan peduli kepada Umat Allah, maka Kristus sendirilah yang hadir bersama umatnya.

HIDUP MENIKAH

Untuk pasangan Kristen yang menikah, mereka mengikuti jejak Kristus dengan cara memberikan diri mereka seutuhnya kepada pasangan mereka tanpa ada syarat apa pun, berjanji untuk mencintai dan setia satu sama lain seumur hidup mereka, berbagi sukacita dan penderitaan dalam keadaan apa pun. Mereka mengungkapkan cinta mereka melalui hubungan seksual mereka yang membawa mereka bersama-sama dalam keintiman erat dan membuka kesempatan untuk sebuah kehidupan baru.

HIDUP MEMBIARA

Untuk seseorang yang memilih hidup membiara, mereka mengikuti Kristus melalui Kaul kemurnian, kemiskinan dan ketaatan. Mereka dipanggil untuk hidup seperti hidup yang dijalani Kristus; untuk mengikuti teladan hidup kristus – murni, miskin dan taat – membuka hati mereka lebih bebas untuk berdoa dan pelayanan.

HIDUP MELAJANG (AWAM)

Untuk mereka yang memilih hidup melajang, walaupun mereka tidak secara formal mengikrarkan kaul kemiskinan, ketaatan dan kemurnian, tetapi mereka membuat komitmen pribadi untuk menempatkan kebebasan mereka untuk melayani sesama dalam doa dan pekerjaan mereka. Dan dalam melakukan itu, mereka berusaha untuk mengikuti Kristus dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Gaya hidup dan tuntutan setiap panggilan di atas sangatlah berbeda, tetapi ada kesamaan di antara mereka.  Setiap panggilan adalah komitmen untuk mengasihi dengan cara tertentu. Obyek dari setiap panggilan tersebut adalah Tuhan, bukan membangun masyarakat yang lebih baik, memperbaharui gereja, mempunyai keluarga, menolong orang lain. Semua hal tersebut bisa menjadi bagian dari panggilan kita, tetapi tujuan utama tetap untuk mengasihi Tuhan.

Seperti Paus Yohanes Paulus II mengatakan, “Kasih membuat kita mencari yang baik, kasih membuat kita pribadi yang lebih baik. Adalah kasih yang mendorong pria dan wanita untuk menikah dan membentuk keluarga, dan memiliki anak. Kasih lah yang mendorong kita untuk menjalani hidup membiara maupun menjad imam.”

Setiap panggilan menantang kita untuk menjalani iman kita lebih dalam dan mengikuti Kristus lebih dekat. Setiap panggilan, jika dijalani dengan rendah hati dan setia akan memberikan kebahagiaan dan juga penderitaan dan pengorbanan. Akhirnya, penting bagi kita untuk tidak membandingkan nilai panggilan yang berbeda tetapi untuk menghargai nilai masing-masing panggilan tersebut dan menemukan Panggilan Tuhan untuk hidup anda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s