Doubt & Difficulty

Sebuah penjelasan yang saya baca di forum ekaristi.org. Cukup menarik sehingga saya rasa harus dicopy di sini untuk dibaca.

Ada perbedaan antara “keraguan” dan “kesulitan” (aku terjemahkan dari “doubt” dan “difficulty”).

Sebagai ilustrasi. Seorang wanita diberitahu polisi bahwa suaminya tertangkap basah sedang berada di kamar tidur seorang wanita muda dalam kondisi telanjang (si suami yang telanjang). Dalam situasi seperti ini biasanya dugaan yang muncul adalah si suami ini sedang selingkuh.

Si polisi kemudian bertanya kepada sang istri:

“Apakah ibu punya dugaan bahwa suami ibu akan berselingkuh?”

“Tidak”

“Apakah ada tanda-tanda sebelumnya kalau suami ibu melakukan perselingkuhan?”

“Tidak.”

“Apakah ibu masih merasa bahwa suami ibu tidak berselingkuh?”

“Ya. Saya yakin suami saya tidak berselingkuh.”

“Tapi suami ibu tertangkap basah dalam kondisi telanjang bulat di dalam kamar seorang wanita muda?”

“Saya percaya itu memang yang telah terjadi.”

“Meskipun begitu ibu masih yakin bahwa suami ibu tidak berselingkuh?”

“Begini pak polisi. Saya dan suami saya dulu itu tetangga dari kecil. Saat SMP kami berpacaran dan setelah lulus SMA kami menikah. Kami hidup sebagai suami-istri sudah hampir 25 tahun lebih. Kami saling tahu luar dalam diri masing-masing. Dan berdasarkan sifat dan watak suami yang sudah saya kenal puluhan tahun itu, TIDAK MUNGKIN dia selingkuh.

“Tapi bu, dia kan tertangkap basah dalam kondisi telanjang di kamar tidur seorang wanita muda. Ibu sendiri juga percaya laporan itu. Apa ibu masih yakin kalau suami ibu tidak selingkuh?”

“Pak polisi, saat ini saya tidak bisa menjelaskan kenapa suami saya itu bisa berada di kamar tidur seorang wanita muda dalam kondisi telanjang bulat. Itu adalah tugas anda untuk menyelidiki asal-muasalnya. Bisa jadi si wanita-lah yang melucuti pakaian suami saya. Bisa jadi saat membetulkan jendela di kamar tidur itu jatuh puluhan ulat gatal di pakaian suami saya sehingga terpaksa dia melucutinya. Bisa jadi suami saya terhipnotis sehingga tidak sadar kalau dia dikamar orang lain dan melucuti pakaiannya. Ini semua adalah tugas anda untuk menyelidiki. Yang saya tahu adalah, suami saya tidak mungkin selingkuh!”

Nah, kalau kita BENAR-BENAR PUNYA IMAN, maka ketika kita dihadapkan kepada berbagai argumen yang kontradiktif terhadap iman itu (misalnya, argumen bahwa Yesus bukan Allah, argumen bahwa Perawan Maria pernah berdosa, argumen bahwa Ekaristi bukan Tubuh Kristus dll), sifat kita adalah seperti sang istri itu.

Memang argumen dari lawan bisa kedengaran sangat masuk akal. Apalagi kalau disertai ayat, kutipan Bapa Gereja dan bukti sejarah. Kita mungkin belum pernah mendengarnya, terpana akan ke-masuk-akal-annya, bahkan tidak bisa memberi jawaban. Kita bingung bagaimana merekonsiliasikan argumen lawan yang dahsyat itu dengan posisi kita sendiri.

Meski begitu, kebingungan kita ini tidak otomatis berarti kita kehilangan iman. Seperti si istri yang tidak bisa menjelaskan kenapa suaminya telanjang bulat di dalam kamar wanita muda, kita mungkin tidak tahu bagaimana menjawab argumen lawan yang masuk akal itu. Tapi, seperti si istri yang kenal suaminya sejak kecil, kita tahu dengan amat pasti bahwa Gereja kita adalah benar berdasarkan bukti-bukti yang tidak kalah pastinya dan berdasarkan kebajikan iman yang kita terima saat baptisan. Maka kita dengan yakin percaya bahwa pasti argumen itu bisa dijawab dan iman kita tetap terteguhkan.

Nah, kasus diatas adalah kasus dimana seorang mengalami “kesulitan” (“difficulty”).

Tapi kalau yang kita alami adalah “doubt” atau “keraguan” terhadap iman kita. Maka pada dasarnya kita telah kehilangan iman.

Dalam kasus si istri diatas, bila dia meragukan kesetiaan suaminya dan meng-entertain pikiran bahwa suaminya mungkin selingkuh, maka dia telah “meragukan” (“doubted”) si suami. Dalam kondisi ini keyakinannya/kepercayaannya terhadap suami telah hilang.

Begitu pula kalau ketika dihadapkan pada argumen-argumen lawan kita mulai “meragukan” kebenaran iman kita. Ketika kita mulai berpikir, “jangan-jangan Yesus bukan Allah,” “jangan-jangan Gereja Katolik bukan Gereja yang didirikan Yesus,” “jangan-jangan para rasul tertipu” etc maka iman kita telah hilang.

Nah, apa sebenarnya yang kamu alami? “Keraguan” atau “kesulitan?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s