Obrolan seputar kematian

21-Feb-2018
I just discovered another blog of mine, which was active from May 2011 to April 2012. 
I will import some of the relevant contents to this blog.

Honestly, I don’t remember who the other person was.

___________
It was posted on August 3, 2011
obrolan dalem di BBM:

A: Kalau gue besok mati, gimana?

Continue reading

Advertisements

Runaway

I think it was taken from a novel, which I can’t remember the title.

+Ngga adil, ya, kita ngerasa ini. Maksud aku, kenapa kita ngga bisa bersama-sama terus?
-Karena kita akan melukai orang yang bersama kita, kamu tau itu.
+Well, walau bagaimanapun, gue ngga pernah nyesel kenalan sama loe, walaupun akhirnya mesti seperti ini, walaupun hati gue sakit.
-Gue juga, tau kenapa?
+Napa?
-Karena walaupun kita berjalan ke dua arah yang berlawanan, loe tetap tetep ada di sini, di dalam hati gue. Mungkin  ini terakhir kalinya kita ketemu, tapi elu ngga akan pernah hilang dari dalam diri gue.
Continue reading

Krisma… Sudah selesai!

Pertama-tama, Proficiat untuk 133 penerima Sakramen Krisma di Gereja St. Petrus malam tadi. Sebuah perjalanan yang tidak mudah untuk para pengajar mau pun para peserta.

Di bulan Januari,ketika diminta untuk menjadi Koordinator Sakramen Krisma, saya tidak mempunyai ekspektasi apa-apa. Bahkan pada saat itu, Sakramen Krisma itu masih samar-samar karena saya memang tidak banyak tahu mengenai sakramen ini. Dan pada saat itu, tidak ada rencana untuk mengadakan Sakramen Krisma tahun ini di Paroki, sehingga saya tidak terlalu memikirkannya.

Di bulan Mei, mendadak saya mendapat mandat untuk mempersiapkan Kelas Sakramen Krisma, karena Pak Thomas, Koordinator seksi Katekese, mau menanyesuaikan jadwal Bapak Uskup ke Batam. Sewaktu itu, masih Administrator Apostolik Mgr. Yohanes Harun Yuwono.

Kelas persiapan penerimaan Sakramen Krisma dimulai bulan Agustus, kelas pertama.. berantakan.. Jujur, saya belajar sembari menjalankan prosesnya. Banyak yang harus saya improv dengan seiring perjalanan waktu. Mulai dari rencana untuk membuat 1 kelas, tetapi setelah melihat kelas pertama, saya jadikan 2 kelas. Belum lagi, ada peserta yang tidak bisa mengikuti kelas di Hari Minggu karena ada kegiatan lain yang tidak bisa diganti, sehingga saya membuat kelas susulan di hari Jumat.

Ada beberapa waktu di mana saya tidak mempunyai waktu yang cukup untuk mempersiapkan bahan. Untuk itu saya minta maaf. Tetapi saya selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik. Saya percaya Tuhan akan menyempurnakannya.

Di penghujung kelas krisma, semakin banyak tantangan dan saya benar-benar bergantung penuh kepada campur tangan Tuhan. Waktu semakin sedikit dan ternyata begitu banyak yang harus dipersiapkan. Ada beberapa moment di mana jika diberi kesempatan untuk menyerah, maka saya akan mundur. Tetapi dengan padatnya waktu, itu bukan satu opsi. Saya harus benar-benar mempush diri saya untuk bisa terus berjuang dan itu tidak mudah. Saya kembali mengingat bahwa ini semua untuk ke-133 peserta yang selalu hadir setiap Minggu dan untuk kemuliaan Tuhan.

Sewaktu misa tadi, saya mendadak merasa haru ketika melihat para calon krismawan dan krismawati maju untuk menerima sakramen krisma. Di situ, saya tahu bahwa secara formal peran saya sudah selesai. Tidak ada lagi yang bisa saya lakukan. That’s it. Mulai dari saat ini sampai seterusnya, mereka sudah dianggap dewasa dalam iman oleh Gereja. Hopefully, I’ve done my best to plant the seed. Whatever I’ve planted, I might and might not see it in my lifetime. Hopefully, I will be able to know it in the next life.

Terima kasih untuk Bapa Uskup yang telah bersedia hadir, Para Pastor di paroki yang mendukung dan memberi bantuan. Selain itu pula, terima kasih untuk dukungan koordinator katekis, Pak Thomas Suprapto, para tim pengajar. Saya belajar banyak dari mereka. Terima kasih juga untuk para Krismawan dan Krismawati yang telah setia untuk mengikuti kelas krisma selama beberapa bulan terakhir ini.

Semoga para Krismawan dan Krismawati diberi hikmat untuk bisa menjadi saksi Kristus di lingkungan di mana mereka berada. Semoga Tuhan memberkati kita semua.

Bapa Surgawi

Enam atau tujuh tahun yang lalu, saya mengikuti KOMJak. Di retret pembukanya Romo Harry mengajak peserta untuk menyanyikan lagu Bapa Surgawi.

Bapa Surgawi ajarku mengenal
Betapa dalamnya kasihMu
Bapa surgawi buatku mengerti
Betapa kasihMu padaku
Semua yang terjadi didalam hidupku
Ajarku menyadari kau selalu sertaku
Dihatiku selalu bersyukur padaMu
Karna rencanaMu indah bagiku

Jujur pada saat itu, saya tidak merasakan apa-apa. Saya ga familiar dengan lagunya, hanya tau itu lagu Nikita. Hanya moment itu cukup berkesan, mungkin karena menurut saya lagunya biasa saja dan kenapa romo pilih lagu ya?

Jadi sampai sekarang, lagu itu identik dengan romo Harry. Namun belakangan ini, saya semakin mengerti dan tersentuh dengan lagu ini dan bahkan menjadi satu lagu favorit kalau lagi nyetir.

Saya ga habis mikir, kenapa Tuhan mau ciptain saya? Kenapa Tuhan mengasihi saya. Rasanya ga nyata aja bahwa ada yang peduli, ada yang sayang sama saya. Walaupun mengetahui segala hal yang telah saya perbuat, namun kasih-Nya tetap ada untuk saya.

Dalam setiap kesalahan dan dosa yang telah saya buat, Tuhan tetap memperbaiki semuanya dan menjadikannya indah. Padahal Dia tidak harus melakukan itu semua.

Rasanya kalau mau direnungin “Saya dikasihi Tuhan,” maka tidak akan ada habisnya.

Terima kasih Tuhan..

Mission

God has created me
to do him some definite service;
He has committed some work to me
which He has not committed to another.
I have my mission –
I may never know it in this life,
but I shall be told of it in the next.

I am a link in a chain,
a bond of connection between persons.
He has not created me for naught,
I shall do good,
I shall do his work.
I shall be an angel of peace,
a preacher of truth
in my own place
while not intending it –
if I do but keep
His Commandments.

Therefore, I will trust Him.
Whatever, wherever I am,
I can never be thrown away.
If I am in sickness,
my sickness may serve Him;
in perplexity,
my perplexity may serve Him;
if I am in sorry,
my sorrow may serve Him.
He does nothing in vain.
He knows what He is about.
He may take away my friends.
He may throw me among strangers.
He may make me feel desolate,
make my spirits sink,
hide my future from me –
still He knows
what He is about.

– John Henry Cadinal Newman

First Entry

Holla! I’m back in the blogging world.

Life has been a roller coaster ride for me, with so many ups and downs. the time where I’ve been on and off on WordPress.com, I’ve ventured to other social media. But writing is still my passion, I might not be able to write daily but I promise I will write religiously as often as I could.
———-

This is the first entry for this blog, the entries before this are imported from my other blogs.

 

Reconciliation

21-Feb-2018
I just discovered another blog of mine, which was active from May 2011 to April 2012. 
I will import some of the relevant contents to this blog. 

This week, I decided to end my fight with God. I’ve been having a big question mark about God for sometime now. I used to think that I know him, but the past few weeks I’ve been wondering whether it was true.

It’s easy to love God when everything is going well. But how to love God when bad things happen to us? It’s something that I’m still trying to figure out. Honestly, it doesn’t matter anymore, I don’t wanna waste time thinking about it.