20th Death Anniversary of Henri Nouwen

 

Advertisements

Mengapa banyak Katolik meninggalkan iman mereka dari usia 10 tahun?

Saya tidak terkejut kalau membaca “Orang Katolik meninggalkan iman Katolik” karena itu sudah sering terjadi dan akan terus terjadi. Di awal bulan ini, saya membaca satu artikel di website Catholic News Agency yang menyatakan bahwa ada Katolik yang meninggalkan iman mereka sejak berusia 10 tahun dan alasannya bukan karena bosan dengan Misa.

Sebagian dari mereka meninggalkan Iman Katoliknya dan menjadi Agnostik ataupun Ateis. Ketika ditanya lebih dalam, mereka mengungkapkan bahwa mereka butuh penjelasan ilmiah (science) dan juga bukti-buktinya.

Menurut Dr. Mark Gray, seorang peneliti senior di Centre for Applied Research in the Apostolate (CARA) Georgetown University, Generasi muda saat ini mempunyai pergumulan iman yang berbeda dan belum pernah ada sebelumnya. Beliau juga mempublikasikan 2 hasil riset CARA; riset yang pertama mengenai orang yang dibesarkan dalam Iman Katolik tetapi meninggalkan iman mereka di usia 15-25 tahun. Riset yang kedua mengenai orang-orang yang mengidentifikasikan dirinya Katolik dari usia 18 tahun.

Ketika mendalami masalah ini, beliau mendapati bahwa banyak orang muda katolik yang meninggalkan iman karena mereka mendapati bahwa iman Katolik tidak sesuai dengan apa yang mereka pelajari di sekolah menengah maupun di universitas. Dalam “peperangan” antara Gereja Katolik dan Ilmu Pengetahuan, Gereja kalah.

Interview dengan orang muda katolik yang telah meninggalkan Gereja mengungkapkan bahwa kebanyakan dari mereka memutuskan untuk meninggalkan gereja di usia 13 tahun. Hampir dua pertiga dari mereka yang disurvei, 63 persen, mengatakan mereka berhenti menjadi Katolik antara usia 10 dan 17 tahun. 23 persen lainnya mengatakan mereka meninggalkan Iman sebelum usia 10 tahun. Dari semua itu, hanya 13 persen yang mengatakan kemungkin untuk kembali mengimani Iman Katolik.

Alasan paling umum diberikan untuk meninggalkan iman Katolik, dengan satu dari lima responden, adalah mereka berhenti percaya pada Tuhan atau agama. Ini adalah bukti dari “keinginan di antara beberapa dari mereka untuk bukti, bukti apa yang mereka belajar tentang agama mereka dan tentang Tuhan,” kata Gray.

Ini adalah tren dalam budaya populer untuk melihat ateisme sebagai “cerdas” dan iman sebagai “sebuah dongeng,” katanya.

Sebenarnya, jika dipelajari, tidak ada pertentangan antara ilmu pengetahuan dan ajaran agama. Bahkan bisa ditelusuri ke Santo Agustinus di abad ke lima, bagaimana Iman Katolik dan ilmu pengetahuan selalu berjalan berdampingan. Dan Gereja selalu terbuka untuk ilmu pengetahuan.

Bagaimana pendapat anda mengenai hal ini? Dan apakah yang bisa dilakukan oleh Gereja agar anak-anak kita bisa tetap mengimani Katolik? Silahkan meninggalkan komen di bawah.

SUMBER

Dengue Fever & Crow

Hey all!

I’ve been super busy this week. A cousin of mine has been hospitalized since Monday for Dengue Fever. He came from another island, about 90 minutes away. He was in terrible shape when he came, his Blood platelet count was only 2,000. Normally, you would have from 150,000 to 450,000 platelet per microlitre of circulating blood. He’s still in the hospital but the doctor said he could be discharged from the hospital tomorrow. So that’s a good news.

Continue reading

Curhat Buat Sahabat (Rectoverso)

Jika berbicara mengenai ini, saya selalu ingat percakapan saya dengan teman saya Melty. Selera kita berbeda, menurut dia versi asli lagu ini yang menggunakan intro besar itu sangat pas dan membuat lagu ini megah. Sedangkan saya lebih suka dengan kesederhanaan. Syukur lah akhirnya cerita ini dibuat versi filmnya dan menurut saya soundtrack yang dinyanyikan Acha Ft. Tohpati itu sangat pas. Tapi tetep aja Melty bilang versi aslinya lebih keren. Ya begitulah manusia, diberi otak, hati dan kehendak yang membuat setiap individu berbeda satu dengan lainnya.

Semakin saya tonton filmnya, semakin saya suka dengan adaptasi filem Curhat Buat Sahabat. Cerita di bukunya begitu sederhana sehingga saya sempat mempertanyakan bagaimana itu bisa diadaptasi. Ketika menonton pertama kali di bioskop, saya merasa cerita ini yang paling lemah dibanding ke-4 cerita lainnya, tetapi semakin ditonton, saya melihat detail-detail yang membuat cerita ini bagus.

Continue reading