Mengapa banyak Katolik meninggalkan iman mereka dari usia 10 tahun?

Saya tidak terkejut kalau membaca “Orang Katolik meninggalkan iman Katolik” karena itu sudah sering terjadi dan akan terus terjadi. Di awal bulan ini, saya membaca satu artikel di website Catholic News Agency yang menyatakan bahwa ada Katolik yang meninggalkan iman mereka sejak berusia 10 tahun dan alasannya bukan karena bosan dengan Misa.

Sebagian dari mereka meninggalkan Iman Katoliknya dan menjadi Agnostik ataupun Ateis. Ketika ditanya lebih dalam, mereka mengungkapkan bahwa mereka butuh penjelasan ilmiah (science) dan juga bukti-buktinya.

Menurut Dr. Mark Gray, seorang peneliti senior di Centre for Applied Research in the Apostolate (CARA) Georgetown University, Generasi muda saat ini mempunyai pergumulan iman yang berbeda dan belum pernah ada sebelumnya. Beliau juga mempublikasikan 2 hasil riset CARA; riset yang pertama mengenai orang yang dibesarkan dalam Iman Katolik tetapi meninggalkan iman mereka di usia 15-25 tahun. Riset yang kedua mengenai orang-orang yang mengidentifikasikan dirinya Katolik dari usia 18 tahun.

Ketika mendalami masalah ini, beliau mendapati bahwa banyak orang muda katolik yang meninggalkan iman karena mereka mendapati bahwa iman Katolik tidak sesuai dengan apa yang mereka pelajari di sekolah menengah maupun di universitas. Dalam “peperangan” antara Gereja Katolik dan Ilmu Pengetahuan, Gereja kalah.

Interview dengan orang muda katolik yang telah meninggalkan Gereja mengungkapkan bahwa kebanyakan dari mereka memutuskan untuk meninggalkan gereja di usia 13 tahun. Hampir dua pertiga dari mereka yang disurvei, 63 persen, mengatakan mereka berhenti menjadi Katolik antara usia 10 dan 17 tahun. 23 persen lainnya mengatakan mereka meninggalkan Iman sebelum usia 10 tahun. Dari semua itu, hanya 13 persen yang mengatakan kemungkin untuk kembali mengimani Iman Katolik.

Alasan paling umum diberikan untuk meninggalkan iman Katolik, dengan satu dari lima responden, adalah mereka berhenti percaya pada Tuhan atau agama. Ini adalah bukti dari “keinginan di antara beberapa dari mereka untuk bukti, bukti apa yang mereka belajar tentang agama mereka dan tentang Tuhan,” kata Gray.

Ini adalah tren dalam budaya populer untuk melihat ateisme sebagai “cerdas” dan iman sebagai “sebuah dongeng,” katanya.

Sebenarnya, jika dipelajari, tidak ada pertentangan antara ilmu pengetahuan dan ajaran agama. Bahkan bisa ditelusuri ke Santo Agustinus di abad ke lima, bagaimana Iman Katolik dan ilmu pengetahuan selalu berjalan berdampingan. Dan Gereja selalu terbuka untuk ilmu pengetahuan.

Bagaimana pendapat anda mengenai hal ini? Dan apakah yang bisa dilakukan oleh Gereja agar anak-anak kita bisa tetap mengimani Katolik? Silahkan meninggalkan komen di bawah.

SUMBER

2016!

A quarter into 2016, and this is my first post. Sorry!

I’ve been busy with the Young Adult group across the Vicariate Forane here. We’re preparing for Indonesian Youth Day (IYD), which will be held in Manado, North Sulawesi on October 1-6 2016.

There are so many challenges that we have to face in this project. For example, geography; there are 7 parishes and it’s located in different islands, four in Batam island and the other three are in three different islands. So it’s very difficult and costly to have meeting. I will make another post solely on IYD.

Another good news, I’m back being an active member of Legion of Mary. It was a tough call. It took me almost 7 months to finally decide that I wanted to be an active member. During those 7 months, I had the thought to quit more than I could count. It was definitely not easy for me. But I made my decision. Thus, I said my Legion Promise 2 weeks ago. This is my 3rd Praesidium and my 12th year being Legioner. I think Legion of Mary is the only Church group where I never see any fight/quarrel among the members. The Legion meeting is very organized and packed that we don’t have idle time to do/discuss anything else besides our meeting.

 So yes, that’s about it.